Dua Pelajar Berusia 13 Tahun Ditemukan Tenggelam di Kolam Kawasan Kampus UMB, Barito Kuala. Keduanya Baru Diketahui Tidak Berada dalam Rombongan Menjelang Kepulangan. Keluarga Mempertanyakan Pengawasan, Kecepatan Pencarian hingga Respons setelah Korban Dilaporkan Hilang. Polisi Menyatakan Peristiwa Masih Didalami, Sementara Pihak Sekolah Mengaku Telah Menyerahkan Informasi kepada Kepolisian.
BANJARMASIN – DetikKhatulistiwa.com
Duka mendalam menyelimuti keluarga dua siswa MTs Muhammadiyah Al Furqan Banjarmasin setelah kegiatan Kemah Akbar yang semestinya menjadi ruang pendidikan, kebersamaan dan pembentukan karakter justru berakhir tragis.
Dua siswa kelas VII, Rizqi Adly Fakhrian (13) dan Muhammad Farhan Alkatiri (13), meninggal dunia setelah ditemukan tenggelam di sebuah kolam di kawasan Kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Minggu (6/9/2026).
Peristiwa tersebut kini tidak hanya meninggalkan kesedihan. Sejumlah pertanyaan serius muncul dari keluarga korban mengenai sistem pengawasan peserta, rentang waktu sejak kedua siswa tidak diketahui keberadaannya hingga pencarian dilakukan, kondisi lokasi kolam, serta respons pihak yang bertanggung jawab terhadap kegiatan.
Keluarga meminta kepolisian mengusut peristiwa itu secara menyeluruh agar kronologi sebenarnya dapat diketahui berdasarkan fakta dan alat bukti, bukan semata berdasarkan dugaan atau informasi yang beredar.
Hilang Menjelang Kepulangan
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber, kegiatan Kemah Akbar telah berlangsung sejak Sabtu (5/9/2026) dan diikuti ratusan peserta.
Petaka diketahui ketika kegiatan memasuki tahap menjelang kepulangan pada Minggu.
Saat dilakukan pengecekan atau absensi, Rizqi dan Farhan tidak ditemukan bersama peserta lainnya. Panitia dan peserta kemudian melakukan pencarian terhadap keduanya.
Pencarian akhirnya mengarah ke sebuah kolam di belakang kawasan gedung kampus.
Kedua pelajar itu kemudian ditemukan di kolam tersebut. Informasi awal menyebut sebelum dinyatakan hilang, para peserta sempat melakukan aktivitas bersih-bersih setelah permainan yang membuat mereka basah dan kotor. Namun, bagaimana persisnya kedua korban sampai masuk ke kolam masih menjadi bagian penting yang perlu dipastikan melalui penyelidikan.
Karena itu, informasi yang menyebut korban tergelincir, berenang, tercebur atau masuk ke kolam dengan cara tertentu belum sepatutnya diperlakukan sebagai kesimpulan final sebelum kepolisian menyelesaikan pemeriksaan.
Pertolongan Tak Berhasil Menyelamatkan Korban
Setelah ditemukan, kedua korban dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan.
Farhan dibawa ke fasilitas kesehatan di kawasan Handil Bakti, sedangkan Rizqi dilarikan ke RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin.
Rizqi dilaporkan sempat menunjukkan tanda kehidupan dan mendapatkan upaya resusitasi. Namun, upaya pertolongan tersebut pada akhirnya tidak mampu menyelamatkan nyawanya.
Dua keluarga pun harus menerima kenyataan pahit: anak yang mereka antar mengikuti kegiatan sekolah tidak pernah kembali dalam keadaan hidup.
Keluarga Pertanyakan Pengawasan
Sehari setelah tragedi tersebut, persoalan mulai berkembang.
Keluarga korban secara terbuka mempertanyakan bagaimana pengawasan terhadap anak-anak selama kegiatan berlangsung, khususnya ketika mereka berada di sekitar kolam.
Atikah, ibu Farhan, mengaku berulang kali mencoba menghubungi anaknya sejak pagi tetapi tidak mendapat jawaban. Ia kemudian memperoleh informasi dari orang tua siswa lain bahwa putranya sedang dicari. Menurut keterangannya kepada media, keluarga juga mempertanyakan mengapa pemberitahuan kepada orang tua tidak dilakukan lebih cepat.
Keluarga bahkan mengaku memperoleh sejumlah informasi dari peserta lain mengenai aktivitas di sekitar kolam. Namun keterangan tersebut masih perlu diverifikasi penyidik karena keluarga sendiri menyatakan belum mengetahui secara pasti bagaimana kedua anak tersebut akhirnya berada di dalam kolam.
Inilah salah satu titik krusial perkara.
Pertanyaan bukan semata-mata bagaimana dua siswa tenggelam, tetapi juga kapan keduanya terakhir terlihat, kapan ketidakhadiran mereka diketahui, siapa yang bertugas mengawasi, kapan pencarian dimulai, dan apakah sebelumnya sudah terdapat informasi mengenai siswa yang berada dalam kondisi berbahaya di sekitar kolam.
Jawaban atas rangkaian pertanyaan itu penting untuk merekonstruksi peristiwa secara objektif.
Muncul Keterangan Dugaan Laporan kepada Pembina
Keluarga Rizqi juga menyampaikan informasi yang mereka peroleh mengenai kejadian tersebut.
Hilda, kerabat Rizqi, mempertanyakan pengawasan terhadap siswa, terutama di sekitar kolam. Menurut informasi yang diterima keluarga, beberapa siswa disebut berada di sekitar lokasi dan ada keterangan bahwa kondisi tersebut sempat disampaikan kepada guru atau pembina.
Keluarga mengklaim respons yang diterima ketika itu menyebut lokasi tersebut tidak terlalu dalam. Namun, keterangan tersebut masih merupakan versi keluarga berdasarkan informasi yang mereka terima dan belum dapat ditempatkan sebagai fakta hukum sebelum diverifikasi melalui pemeriksaan saksi dan pihak terkait.
Kondisi kolam juga menjadi perhatian keluarga. Lumpur, vegetasi air serta kedalaman pada titik tertentu disebut berpotensi menimbulkan bahaya.
Seluruh kondisi fisik lokasi tersebut tentu dapat menjadi bagian penting dalam pemeriksaan aparat untuk menentukan apakah terdapat faktor risiko yang semestinya telah diantisipasi penyelenggara kegiatan.
Keluarga Minta Polisi Usut Tuntas
Atikah menyatakan keluarganya menginginkan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi terhadap anaknya.
Ia meminta kepolisian mengusut kasus tersebut secara tuntas dan adil. Dalam keterangannya kepada media, Atikah juga menyebut ayah korban telah melaporkan peristiwa tersebut.
Keluarga Rizqi menyampaikan tuntutan serupa.
Bagi keluarga, pengusutan diperlukan bukan semata untuk mencari siapa yang harus dipersalahkan, tetapi untuk mengetahui apakah prosedur keselamatan dan pengawasan terhadap peserta yang masih berusia anak telah dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Terlebih, kegiatan sekolah yang melibatkan anak dalam jumlah besar semestinya disertai mitigasi risiko, pembagian tanggung jawab pengawasan yang jelas, kontrol terhadap area berbahaya, serta mekanisme tanggap darurat apabila peserta hilang atau mengalami kecelakaan.
Polisi: Masih Didalami
Kepolisian belum menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab maupun kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam peristiwa tersebut.
Kapolres Barito Kuala AKBP Susilawati sebelumnya menyatakan aparat masih melakukan pendalaman atas kejadian yang merenggut nyawa dua siswa tersebut.
Pernyataan itu menjadi penting karena status hukum peristiwa belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan dugaan keluarga maupun informasi saksi yang beredar.
Untuk menentukan apakah tragedi tersebut merupakan kecelakaan murni atau terdapat unsur kelalaian yang mempunyai konsekuensi hukum, penyidik perlu merekonstruksi rangkaian kejadian dan memeriksa pihak-pihak yang mengetahui peristiwa.
Pihak Sekolah: Informasi Sudah Disampaikan kepada Polisi
Di tengah sorotan keluarga, pihak MTs Al Furqan juga telah memberikan respons terbatas.
Ketika dikonfirmasi media pada Senin (7/9/2026), seorang pihak sekolah yang disebut sebagai Wakil Direktur Bidang Kesantrian menyatakan seluruh informasi yang dimiliki sekolah mengenai kejadian tersebut telah disampaikan kepada kepolisian dan meminta informasi lebih lanjut dikonfirmasikan kepada aparat.
Dengan demikian, tudingan mengenai adanya kelalaian belum merupakan kesimpulan hukum dan pihak sekolah tetap harus memperoleh ruang yang proporsional untuk memberikan penjelasan.
Namun, tuntutan transparansi dari keluarga juga tidak dapat diabaikan.
Ada dua anak yang meninggal dalam sebuah kegiatan yang berada dalam lingkup pengawasan orang dewasa. Karena itu, kronologi peristiwa, sistem pengawasan dan mekanisme keselamatan yang diterapkan merupakan persoalan yang layak dijelaskan secara terang.
Sejumlah Pertanyaan Menunggu Jawaban
Tragedi Kemah Akbar ini menyisakan beberapa titik yang perlu didalami secara objektif oleh kepolisian: waktu terakhir kedua korban terlihat, durasi hingga mereka dinyatakan hilang, siapa yang bertanggung jawab melakukan pengawasan pada saat itu, apakah ada laporan dari peserta lain mengenai kondisi korban, bagaimana respons setelah laporan diterima, serta bagaimana standar keamanan di sekitar kolam.
Keterangan dari guru, pembina, panitia, peserta yang berada bersama korban, pengelola lokasi hingga keluarga dapat menjadi bagian penting untuk menyusun kronologi utuh.
Begitu pula pemeriksaan tempat kejadian, karakteristik dan kedalaman kolam serta kemungkinan keberadaan dokumentasi foto atau video selama kegiatan.
Semua itu diperlukan agar tragedi yang merenggut dua nyawa anak tersebut tidak berhenti sebagai kabar duka tanpa jawaban.
Bukan Saatnya Mendahului Hasil Penyelidikan
DetikKhatulistiwa.com menilai penting untuk menempatkan kasus ini secara hati-hati.
Kesedihan dan tuntutan keluarga untuk memperoleh kejelasan patut dihormati. Pada saat yang sama, dugaan adanya kelalaian harus dibuktikan melalui proses hukum dan tidak boleh terlebih dahulu diposisikan sebagai fakta.
Yang paling mendesak adalah memastikan aparat dapat bekerja secara objektif dan seluruh pihak yang mengetahui kejadian memberikan keterangan secara terbuka.
Apabila penyelidikan menemukan adanya kelalaian yang mempunyai hubungan dengan meninggalnya korban, pertanggungjawabannya harus diproses sesuai hukum. Sebaliknya, apabila fakta menunjukkan peristiwa tersebut merupakan kecelakaan yang tidak lahir dari kelalaian pihak tertentu, kesimpulan itu pun harus dibangun berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tragedi ini sekaligus menjadi peringatan bagi seluruh institusi pendidikan bahwa kegiatan di luar ruang kelas bukan sekadar persoalan agenda dan pembinaan siswa.
Keselamatan anak harus menjadi standar pertama dan tidak dapat ditawar.
Dua siswa berusia 13 tahun telah kehilangan nyawa. Kini keluarga mereka menunggu satu hal yang sangat mendasar: jawaban yang terang mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu.
